Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya. Tak ada yang salah, tapi tak ada yang benar penafsirannya. karena cinta selalu berkembang ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. cinta juga seperti air yang mengalir ke daratan yang lebih rendah.
Cinta adalah kaki -kaki yang melangkah membangun samudra kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.
Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta. Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gunung enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,” Wahai umatku, kita semua dalam kekuassan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertawakallah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku. ” Khutbah” singkat itu di akhiri dengan pandangan mata Rasullullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar mata itu denagn berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Utsman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam -dalam . Isyarat itu telah datan, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan menungalkan kita semua,” desah hari semua sahabat kala itu.
Manusia teercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat , tatkala Lai dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik-detik berlalu , kalau bisa.
Matahari kian tinggi , tappi pintu Rasulullah masih tertutup. sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba diluar pintu terdengar seornag yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. TApi fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badandan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukamta dan bertanya pada Fatimah, “siapakah itu wahai anakku?” ” Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu denagn pandangan yang menggetarkan . satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut.” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi rasulullah menanyakan kenapa jibril tidak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah siap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penggulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadappan Allah?” tanya Rasullullah denagn suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit talah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar memanti kedatangganmu,” kata Jibril
Tapi itu, ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tak tidak senag mendenagr kabar ini?” tanya jibril lagi
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” kata Rasulullah. “Jangan kawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendenagr Allah berfirman kepadaku : ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad talah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Deti-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasullullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” lirih Rasullullah menagduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasullullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karana sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dasyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umetku.”Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “uushikum bisshalati, wa maamalaikat aimanakum,” ( peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu )
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan kewajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinga ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatii?” dan, ….pupuslah kembang hidup umat manusia mulia itu. Kini,,,,mampukah kita mencintai sepertinya ???